Model bisnis "sharing economy" atau ekonomi
berbagi sedang jadi sorotan lantaran maraknya aplikasi on-demand yang
menerapkannya. Di era kemajuan bisnis teknologi seperti sekarang ini, model
bisnis sharing economy dipandang lebih menguntungkan dibandingkan dengan model
bisnis konvensional. Azas kebersamaan yang terbangun berdasarkan tujuan yang
sama membuat sharing economy sering diterapkan oleh banyak startup. Bisnis
startup adalah suatu bisnis yang baru berkembang. Namun, bisnis startup ini
lebih identik bisnis yang berbau teknologi, web, internet dan yang berhubungan
dengan ranah tersebut. Bisnis startup berkembang akhir tahun 90an hingga tahun
2000.
Di Indonesia sendiri sudah banyak perusahaan, terutama
startup yang membangun bisnis mereka menggunakan model bisnis sharing economy. Salah
satunya adalah GO-JEK. Jaman sekarang ini siapa sih orang yang tidak mengenal
GO-JEK? Pendiri sekaligus CEO Gojek Nadiem Makarim berkata, pihaknya telah
melepas belenggu para pengemudi ojek motor, di mana mereka bisa memberi layanan
lebih berupa kurir instan sampai pembeli makanan dan kebutuhan sehari-hari. Sehingga
para pengemudi ojek ini selain memberi tumpangan kepada orang-orang, dapat juga
melakukan pekerjaan mengantar barang layaknya kurir. Bahkan saat ini aplikasi
tersebut tidak hanya mengandalkan kendaraan roda 2, melainkan juga kendaraan
roda 4. Tidak hanya itu, GO-JEK juga melakukan bisnis untuk kecantikan dan
membersihkan rumah. Dengan 1 aplikasi GO-JEK, kita dapat melakukan banyakk hal,
seperti berpergian, belanja, membeli obat, mengantar barang, membersihkan
rumah, merias wajah, membenarkan kendaraan, dan bahkan sekarang juga bisa
melakukan isi ulang pulsa.
Padahal GO-JEK baru mulai ini baru mulai pada tahun 2010 sebagai
perusahaan transportasi roda dua melalui panggilan telepon, GO-JEK kini telah
tumbuh menjadi on-demand mobile platform dan aplikasi terdepan yang menyediakan
berbagai layanan lengkap mulai dari transportasi, logistik, pembayaran,
layan-antar makanan, dan berbagai layanan on-demand lainnnya. Kegiatan GO-JEK
bertumpu pada 3 nilai pokok: kecepatan, inovasi, dan dampak sosial. Tidak hanya
memberikan peluang pekerjaan kepada masyarakat, bahkan GO-JEK juga membantu
para wirausaha dari kalangan bawah maupun kalangan atas untuk meluaskan
pemasarannya. GO-JEK kini telah hadir di 50 kota besar di Indonesia dan akan
bertambah di tahun mendatang.
Adanya model bisnis seperti ini, tentunya memicu pro dan
kontra untuk masyarakat dan juga para pengusaha yang masih melakukan bisnis
secara konvensional. Sebut saja seringnya terjadi konflik antara pengemudi ojek
online dengan para ojek pangkalan sekitar. Tidak hanya GO-JEK, saat ini di
Indonesia sudah ada jasa online lainnya seperti Uber dan Grab. Dengan adanya
usaha semacam ini, tentunya sangat diterima dengan baik oleh para konsumen yang
ingin cepat dan praktis. Bahkan saat ini GO-JEK juga menerapkan pembayaran tanpai tunai dengan GO-PAY. Sangat membantu dalam mengurangi jumlah penggunaan uang kertas kan?
Bagaimana viewers, apakah kalian termasuk pengguna aplikasi ojek
berbasis online? Apakah kalian termasuk orang yang setuju dengan adanya model
bisnis seperti saat ini? Sekarang kita sudah waktunya bijak dalam memanfaatkan
teknologi yang berkembang sangat pesat. Jangan jadi konsumen saja, namun kita
juga harus bisa menunjukan bahwa kita adalah salah satu produsen yang dapat
memanfaatkan peluang perkembangan teknologi tersebut.



Komentar
Posting Komentar